Acrophobia Adalah Phobia Ketinggian

Pernahkah kamu mendengar tetang acrophobia sebelumnya? Mungkin beberapa sudah sangat familiar dengan penyakit ini, sebagian lain mungkin akan langsung tahu jika disebutkan nama lainnya. Acrophobia adalah phobia ketinggian. Dilansir dari doktersehat.com acrophobia adalah salah satu fobia umum yang ditemui pada beberapa orang. Seseorang yang takut ketinggian akan mengalami kecemasan yang berlebihan jika dirinya berada di ketinggian. Kecemasan juga dapat dirasakan penderita ketika menyebrang jembatan, melihat foto gunung atau lembah. Menurut alodokter.com acrophobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap ketinggian. Rasa takut yang dialami dapat menimbulkan gejala seperti panik, cemas, stres ketika berada di tempat yang tinggi. Seseorang yang menderita phobia ini biasanya akan menghindari kegiatan yang berkaitan dengan tempat tinggi, seperti berdiri di balkon, melintasi jembatan, melihat keluar jendela dari gedung pencakar langit dan duduk di bangku stadium. Kamu mungkin salah satu dari penderita phobia ini. Jika belum yakin, mungkin penjelasan tentang gejala phobia ini akan membantumu yakin bahwa kamu adalah penderitanya atau bukan.

READ  PENYAKIT GANGGUAN JIWA DAN DOKTER SPESIALIS JIWA

Apa gejalanya? Gejala acrophobia adalah perasaan takut, cemas dan panik yang tidak terkontrol saat berada di ketinggian, bahkan ketika kondisinya sedang tidak berbahaya. Reaksi lainnya yang mungkin akan muncul seperti gemetar, pusing, keringat dingin, sesak napas, dada berdebar hingga pingsan. Bahkan, penderita akan merasakan gejalanya ketika membayangkan mereka berada di tempat yang tinggi. Penderita biasanya tahu bahwa rasa yang mereka rasakan bukanlah suatu hal yang wajar, namun mereka tidak dapat mengontrol perasaan tersebut. Perasaan ini tentu sangat menganggu pada beberapa waktu, seperti adanya tuntutan kerja atau hal lainnya. Bahkan pada kasus phobia yang cukup parah, penderitanya akan merasakan gejala tersebut ketika memanjat tangga untuk memasang tirai, ketika mengganti bohlam atau membersihkan jendela.

READ  Mengenal Penyakit Abses Otak

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi phobia ini? Tentunya ada penanganan untuk penyakit ini. Salah satu yang dapat kamu lakukan sebagai bentuk penanganan adalah dengan terapi perilaku. Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavior therapy/CBT) merupakan salah satu teknik psikoterapi yang paling umum untuk mengatasi phobia. Terapi ini berfokus pada mengindentifikasikan dan mengubah pikiran serta reaksi negatif terhadap situasi yang menyebabkan phobia. Terapi lainnya yang dapat dilakukan adalah terapi paparah. Terapi jenis ini dianggap sebagai salah satu terapi yang paling efektif untuk mengatasi phobia ketinggian. Kenapa? Karean terapis akan membantu pasien untuk membuka diri secara perlahan pada hal-hal yang dia takuti. Menurut hellosehat.com terapi ini biasanya memiliki lima langkah, yaitu evaluasi, dengan pasien yang mendeskripsikan ketakutan pada terapis dan mengingat kembali kejadian di masa lalu yang diperkirakan terhubung dengan phobia pasien. Tahap kedua adalah tanggapan di mana terapis akan menawarkan evaluasi phobia dan mengusulkan rencana pengobatan. Ketiga adalah mengembangkan hierarki ketakutan di mana pasien dan terapis dapat membuat daftar skenario yang melibatkan rasa takut, masing-masing lebih intens dari yang terakhir. Dan yang keempat adalah eksposure di mana pasien mulai untuk membuka diri pada masing-masing skenario pada daftar, dimulai dari situasi yang paling tidak menakutkan dan menyadari bahwa kepanikan berkurang dalam beberapa menit saat menghadapi rasa takut. Dan yang terakhir adalah tahap lanjutan, yaitu ketika pasien menjadi nyaman pada setiap tahapan dan akan berpindah pada situasi yang lebih sulit.

READ  Bagaimana Cara Mengobati Achalasia

Itulah hal-hal yang dapat kamu ketahui tentang phobia ini. Acrophobia adalah phobia yang dapat diobati dengan terapi, maka konsultasilah pada dokter.

 

Sumber: hellosehat.com